Generasi yang katanya bakal paling nyaman sama AI justru lagi paling gerah sama AI. Survei Gallup terbaru (digelar 24 Februari–4 Maret 2026 ke 1.572 anak muda AS umur 14–29) nunjukin rasa antusias Gen Z ke AI anjlok ke 22% — turun 14 poin dalam setahun — sementara yang ngaku marah naik jadi 31%. Twist-nya: pemakaian nggak ikut turun. Sekitar separuh tetap buka AI minimal seminggu sekali. Jadi ceritanya bukan "Gen Z berhenti pakai AI", tapi "Gen Z makin nggak nyaman sama AI yang tetap mereka pakai".

Tiga hal yang perlu kamu tahu

  • Perasaannya berbalik. Antusias turun ke 22% (dari 36% tahun lalu), marah naik ke 31%, cemas tetap tinggi di 42%. Peneliti Gallup nyebut lonjakan 7–10 poin dalam setahun itu "perubahan yang berarti", bukan sekadar noise.
  • Tapi pemakaian jalan terus. 22% pakai AI tiap hari, 29% tiap minggu — total sekitar 51% minimal seminggu sekali. Benci bukan berarti berhenti.
  • Datanya dari AS, bukan Indonesia. Ini survei remaja sampai dewasa muda Amerika. Polanya bisa mirip di sini, bisa juga beda — belum ada survei nasional sebanding yang dikutip di sini.

Jadi sebenarnya yang berubah apa?

Bukan seberapa sering AI dipakai — tapi gimana rasanya makai AI. Tahun lalu nada dominannya penasaran. Tahun ini nada itu digeser sama kesal dan curiga. Karena studi Gallup "Voices of Gen Z" ngukur perasaan dan kebiasaan di kelompok yang sama, kita bisa lihat dua garis gerak ke arah berlawanan sekaligus: sikap turun, perilaku datar. Dua garis yang menyimpang itu justru inti beritanya.

Gampangnya: AI udah jadi kayak infrastruktur latar — dipakai tiap hari, tapi udah nggak bikin kagum lagi.

Angka-angkanya (dan dari mana asalnya)

Semua angka di atas dari satu sumber yang sama: survei Gallup bareng Walton Family Foundation dan GSV Ventures, bagian dari proyek "Voices of Gen Z".

  • Antusias: 22% (turun 14 poin dari 2025).
  • Marah: 31% (naik 9 poin).
  • Cemas: 42% (nggak berubah).
  • Penuh harap: 18% (turun 9 poin).
  • Pakai AI: 22% harian + 29% mingguan = sekitar 51% minimal seminggu sekali; 19% ngaku nggak pernah.

Detail yang sering dilupain tapi penting: sampelnya 1.572 orang umur 14–29 di AS, dikumpulin lewat panel acak berbasis alamat, dengan margin of error sekitar ±3,6 poin. Artinya angka 22% itu realistisnya ada di kisaran ~18–26% — sebuah rentang, bukan angka mati.

Kenapa Gen Z mulai gerah?

Survei ngukur apa yang berubah, bukan kenapa. Laporan yang nyertain data ini ngasih beberapa dugaan — ini opini narasumber, bukan fakta pasti:

  • Soal kerjaan. Banyak anak muda ngerasa AI lagi "ngabisin" lowongan entry-level. The Week ngutip survei global yang nyebut 43% CEO berniat ngurangin posisi junior — persis pintu masuk yang biasa dipakai fresh grad.
  • Berasa dipaksa. Beda sama teknologi lama yang diadopsi karena seru, AI sering datang sebagai "kewajiban" dari sekolah dan kantor. Psikolog Julie Lee bilang banyak anak muda ngerasa teknologi ini "didorong ke mereka" tanpa mikirin kesejahteraan mereka.
  • Soal orisinalitas. Gen Z menghargai yang autentik; sebagian ngerasa AI nyalip kerja manusia tanpa ngasih kredit. Mahasiswa MIT Gbemi Odebode nyorot motif profit perusahaan dan minimnya pengawasan.
  • Takut "otak jadi tumpul". Mahasiswa MIT Ellie Bulcena khawatir Gen Z yang lebih muda jadi terlalu bergantung sampai kemampuan mikirnya melemah.

Penanda suasana lain: di beberapa wisuda 2026, pembicara yang muji-muji AI malah diboo mahasiswa — antara lain dilaporkan terjadi di University of Central Florida dan University of Arizona.

Yang masih abu-abu

  • Ini data AS. Jangan otomatis dibaca sebagai "Gen Z Indonesia menolak AI". Konteks kerja, sekolah, dan akses teknologi kita beda.
  • Perasaan ≠ perilaku. Marah ke AI dan tetap pakai AI bisa terjadi bareng. Survei ini malah jadi contohnya.
  • "Kenapa"-nya belum pasti. Alasan soal kerjaan, kreativitas, atau lingkungan masih dugaan dan opini, bukan sebab-akibat yang udah dibuktikan.
  • Satu survei bukan vonis. Margin error, cara nanya, dan momen survei semua ngaruh. Bandingin sama survei lain sebelum narik kesimpulan besar.

Kenapa ini penting buat kamu

Dua alasan. Pertama, ini soal kamu sendiri: gimana kamu mau makai alat yang tiap hari kamu sentuh tapi belum tentu kamu percaya? Kedua, ini latihan baca berita. Bedanya gede antara judul "Gen Z benci AI" sama kenyataan "antusiasme turun, pemakaian stabil, dan datanya dari AS". Yang kedua lebih ribet — tapi itu yang bener.

Coba inget

Tanpa scroll ke atas: dari survei tadi, mana yang turun — seberapa sering Gen Z pakai AI, atau seberapa antusias mereka sama AI?

Coba terapin

Kamu nemu judul: "Studi: Gen Z menolak AI." Berdasarkan artikel ini, sebutin satu alasan kenapa judul itu menyesatkan — lalu satu pertanyaan yang wajib kamu cek dulu sebelum percaya (petunjuk: siapa, kapan, dan di mana mereka disurvei).

Masih penasaran?

  • Kenapa orang bisa makin kesal sama sesuatu tapi tetap memakainya tiap hari?
  • Apa bedanya survei yang ngukur "perasaan" dan data yang ngukur "perilaku"?
  • Kalau survei digelar di AS, gimana cara tahu apakah hasilnya nyambung buat Indonesia?
  • "Margin of error ±3,6 poin" itu maksudnya apa, sih?
  • Klaim "AI menghapus lowongan entry-level" — seberapa kuat buktinya sejauh ini?

Sumber